CITA-CITA DAN TUJUAN

|

1. Memiliki Cita-Cita

Bayangkan ada dua pekerja bangunan sedang menyusun dan menumpuk batu bata dengan semen. Ketika ditanya apa yang sedang mereka lakukan, pekerja pertama menjawab,"Saya sedang menyusun batu bata", sedangkan pekerja kedua menjawab,"Saya sedang membangun rumah ibadah terbesar dan terindah di dunia". Pekerja mana yang memiliki CITA-CITA?

Jika kamu belajar HANYA SEKEDAR UNTUK LULUS UJIAN DAN NAIK KELAS, kamu sama seperti pekerja bangunan yang pertama ATAU belajar UNTUK MERAIH CITA-CITA, kamu sama seperti pekerja yang kedua?

Karena memiliki CITA-CITA (rumah ibadah terbesar dan terindah), maka pekerja tersebut pasti berpikir jauh ke depan. Suatu hari, rumah ibadah itu akan menampung puluhan atau bahkan ratusan ribu umat. Ia harus membangunnya dengan baik dan memastikan bangunan tersebut kokoh sehingga tidak mudah roboh, bahkan kalaupun terjadi gempa. Karena ia berpikir seperti itu (KEYAKINAN), maka ia akan meletakkan dan menyusun batu bata dengan baik dan memastikan kadar semennya cukup untuk membuatnya kokoh (TINDAKAN). TINDAKAN-nya itu memunculkan HASIL, sebuah rumah ibadah terbesar dan terindah.

Karena kamu memiliki CITA-CITA, maka kamu mestinya berpikir jauh ke depan. Suatu hari, kamu akan merawat orang tuamu, membiayai mereka, menjadi warga negara yang baik dan berguna, atau apapun itu. Karena semua itu, maka kamu akan BELAJAR dengan RAJIN dan SUNGGUH-SUNGGUH. KEYAKINAN dan TINDAKAN kamu akan menentukan HASIL yang kamu terima nantinya.

Jika kamu tidak memiliki CITA-CITA, kamu akan kehilangan motivasi dan berakhir dengan membenci semua pelajaran kamu.

BELAJAR UNTUK CITA-CITA KAMU BUKAN UNTUK LULUS UJIAN.

2. Menentukan Tujuan

TUJUAN adalah CITA-CITA yang dipecah-pecah secara realistis.

Apa pentingnya TUJUAN?
a. Pernahkah kamu melihat atlet menembak atau pemanah bertanding, tetapi tidak ada sasarannya?
b. Pernahkah kamu melihat pertandingan sepakbola, dimana dua regu berlari di lapangan, tetapi tidak ada gawang di ujung lapangan?
c. Bisakah kamu memesan tiket pesawat di mana saat ditanya TUJUAN-nya kemana, kamu menjawab "tidak tahu, terserah, ke mana-mana sajalah?".

TIDAK PERNAH dan TIDAK BISA:
a. Kalau atlet menembak dan pemanah tidak memiliki sasaran, mereka tidak bisa bertanding, tidak ada prestasi apapun yang dicapai.
b. Kalau tidak ada gawang atau SASARAN dalam pertandingan sepakbola, apa yang harus dilakukan pemainnya? Tidak ada. Tidak ada gol, tidak ada skor, tidak ada prestasi.
c. Kalau kamu tidak bisa menyebutkan dengan jelas TUJUAN negara atau kota saat memesan tiket, bisakah petugas tiket menjual tiket ke kamu? Tidak akan pernah bisa.

Pada saat kamu menetapkan TUJUAN nilai 100, maka jiwa dan pikiranmu mulai berpikir 'tidak boleh ada kesalahan, semuanya harus diperhitungkan'. Maka TINDAKAN yang kamu ambil pastilah TINDAKAN yang telah diperhitungkan semuanya karena tidak boleh ada kesalahan sedikit pun. Kamu akan berusaha memahami rumus pelajarannya, menggunakan rumusnya dalam soal, berlatih banyak soal, belajar dari kesalahan yang kamu buat dari latihan, dan sebagainya. Semuanya akan memunculkan POTENSI dalam diri kamu. Akhirnya jika kamu tidak mendapat nilai 100, kemungkinan besar HASIL-nya jatuh di nilai 90.

Jika kamu menetapkan TUJUAN nilai 75, maka jiwa dan pikiranmu berpikir 'ada sedikit ruang untuk berbuat kesalahan, tidak perlu semuanya dipelajari'. Maka TINDAKAN yang kamu ambil pun pastilah TINDAKAN sebatas untuk mendapat nilai 75. Kamu tidak akan berlatih banyak soal, tidak belajar bagian yang sulit berharap soal itu tidak akan muncul di ujian, dan sebagainya. Dengan sedikit usaha, tidak akan banyak POTENSI kamu yang bangkit. Kalaupun tidak mencapai nilai 75, kemungkinan besar HASIL-nya jatuh di nilai 60 atau 50.

Lebih buruk lagi, jika kamu tidak menetapkan TUJUAN, maka otak kamu akan langsung mengunci pada nilai terburuk. Itu sama saja dengan BUNUH DIRI.

Hal-hal yang diperhatikan dalam penetapan tujuan:
a. Tujuan harus jelas dan realistis.
b. Setelah mencapai satu tujuan, tentukan tujuan yang lebih tinggi.
c. Tujuan harus tertulis dengan jelas.
d. Tentukan waktu pencapaian.

Contoh tujuan:
a. Saya mendapat 8 buah nilai 100 di semester ini.
b. Saya rangking pertama di kelas saya.
c. Nilai rata-rata saya adalah 95,50.
d. Saya juara umum di sekolah ini.

Salam Belajar!

 

©2008 - 2011 paksiman@BLOG | Template Blue by TNB