Showing posts with label Inspiration. Show all posts
Showing posts with label Inspiration. Show all posts

Mar 23, 2012

Kisah Seekor Belalang

Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya.

Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, “Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh?”.

Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan, “Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”.

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Renungan :
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang.

Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu? Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda mau menyingkirkan “kotak” itu? Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan Anda?

Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar.

Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk Anda.

Sumber: bestmotivator

Berhenti Menjadi Gelas

Seorang guru mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya kebelakangan ini selalu nampak murung dan sedih.

"Kenapa kau selalu murung dan sedih nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" Si Guru bertanya.

"Guru, kebelakangan ini hidup saya penuh dengan masalah. Sukar bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tiada akhirnya" jawab si murid muda.

Si Guru tersenyum. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam, Bawalah kemari. Biar ku perbaiki suasana hatimu itu."

Si murid pun beranjak perlahan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa segelas air dan dua gengam garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu, setelah itu coba kau minum airnya sedikit" kata Si Guru.

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air yang sangat asin.

"Bagaimana rasanya?" Tanya Si Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Si Guru tersenyum sekali lagi apabila melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Si Guru membawa muridnya ke danau berhampiran tempat mereka. "Ambil garam yang segenggam lagi, dan tebarkan ke danau"

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya kurang sopan meludah di hadapan gurunya itu, begitulah pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Si Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, bersebelahan pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tekakkannya,

Si Guru bertanya, "Bagaimana rasanya nak?"

"Segar, segar sekali Guru" kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Si Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau tersebut sampai sepuas-puasnya.

"Nak," kata Si Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadarkan oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap sebegitu, sebegitu, sebegitulah ia, tidak berkurang, tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat bergantung dari besarnya 'kalbu' (hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak terasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikanlah kalbu dalam dadamu itu sebesar danau".

Sumber: skbmaharani

Apa Yang Kita Sombongkan?

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”

Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.

Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.

Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.

Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

Sumber: bestmotivator

May 10, 2011

Hidup Penuh Syukur

Bersyukurlah kepada orang-orang yang mencela Anda
karena mereka telah meningkatkan kebijaksanaan Anda.


Bersyukurlah kepada orang-orang yang menyandung Anda
karena mereka telah meningkatkan kemampuan Anda.

Bersyukurlah kepada orang-orang yang menelantarkan Anda
karena mereka telah mengajarkan kemandirian Anda.

Bersyukurlah kepada orang-orang yang memukul atau melukai Anda
karena mereka telah mengikis buah karma buruk Anda.

Bersyukurlah kepada orang-orang yang menipu Anda
karena mereka telah memperluasa wawasan Anda.

Bersyukurlah kepada orang-orang yang menyakiti Anda
karena mereka telah melatih ketabahan Anda.

Bersyukurlah kepada semua orang
yang telah menjadikan Anda tetap
Teguh menuju jalan Keberhasilan

May 7, 2011

10 Bentuk Sikap dan Prilaku

1. Berdebat – dikurangi sedikit.
2. Bermurah hati – dipebesar sedikit.
3. Berkarya – diperbanyak sedikit.

4. Mulut – dimaniskan sedikit.
5. Emosi – dikurangi sedikit.
6. Bergerak – digesitkan sedikit.
7. Berkata-kata – dilembutkan sedikit.
8. Efisiensi – ditingkatkan sedikit.
9. Senyum ceria – diperlihatkan sedikit.
10. Berpikir – dikembangkan sedikit.

14 Keutamaan Manusia

1. Musuh utama manusia adalah dirinya sendiri.
2. Kegagalan utama manusia adalah kesombongannya.
3. Kebodohan utama manusia adalah berbohong.
4. Kedukaan utama manusia adalah cemburu.
5. Kesalahan utama manusia adalah mengabaikan dirinya.
6. Reputasi utama manusia adalah semangatnya untuk maju.
7. Kehancuran utama manusia adalah putus harapan.
8. Harta utama manusia adalah kesehatan.
9. Utang utama manusia adalah utang budi.
10. Hadiah utama manusia adalah berjiwa pemaaf.
11. Kekurangan utama manusia adalah ketidaktahuannya.
12. Kebahagian utama manusia adalah memberi.
13. Keprihatinan utama manusia adalah rasa rendah diri.
14. Dosa utama manusia adalah egois dan individualis.

Delapan Dimensi Makna Sedikit

1. Menemukan masalah, tenang sedikit.
2. Mengerti masalah, menguasai sedikit.
3. Mengurus masalah, serius sedikit.
4. Menghadapi cobaan, sabar sedikit.
5. Menghadapi kesulitan, tabah sedikit.
6. Dalam kesibukan, hati-hati sedikit.
7. Masalah pendidikan, dinamis sedikit.
8. Beramah-tamah, hangatkan sedikit.

Aug 31, 2008

MENANG ATAS KEGAGALAN

Di Bawah Ini Ada Sebuah Daftar Kegagalan Dari Orang Yang Semasa Hidupnya Mengalami Banyak Tantangan Dan Badai. 1831 - Ia Mengalami Kebangkrutan Dalam Usahanya. 1832 - Ia Menderita Kekalahan Dalam Pemilihan Tingkat Lokal. 1833 - Ia Kembali Menderita Kebangkrutan. 1835 - Istrinya Meninggal Dunia. 1836 - Ia Menderita Tekanan Mental Sedemikian Rupa, Sehingga Hampir Saja Masuk Rumah Sakit Jiwa. 1837 - Ia Menderita Kekalahan Dalam Suatu Kontes Pidato. 1840 - Ia Gagal Dalam Pemilihan Anggota Senat Amerika Serikat. 1842 - Ia Menderita Kekalahan Untuk Duduk Di Dalam Kongres Amerika Serikat. 1848 - Ia Kalah Lagi Di Konggres Amerika Serikat. 1855 - Ia Gagal Lagi Di Senat Amerika Serikat. 1856 - Ia Kalah Dalam Pemilihan Untuk Menduduki Kursi Wakil Presiden Amerika Serikat. 1858 - Ia Kalah Lagi Di Senat Amerika Serikat. 1860 - Ia Akhirnya Menjadi Presiden Amerika Serikat. Siapakah Dia? Namanya Ialah Abraham Lincoln. Kalau Orang Lain Yang Mengalami Demikian Banyak Kegagalan Mungkin Ia Sudah Mundur Secara Teratur. Tetapi Lincoln Maju Terus, Kata Mundur Sama Sekali Tidak Ada Di Otaknya. Akibatnya Ia Kemudian Mencapai Suatu Sukses Yang Luar Biasa.

Bagaimana Dengan Anda?

Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, tanpa kita kehilangan semangat. (Abraham Lincoln)